Cerita

Sabtu, 07 Maret 2015


Cerita di Pesantren
Prolog :

The N.F.I adalah nama julukan santri-santri kamar Al-Qudus di Pondok Pesantren Al-ikhlas. Mereka adalah Karno, Rezi, Doki (yang biasa disingkat Karedok), Maman, Cimon, Lino, Pupun.
Dijuluki demikian karena ke-7 santri ini menggemari anime Naruto dari Jepang,.Hampir Setiap Hari mereka menghabiskan waktu untuk mengobrol tentang Naruto. Entah itu melihat Chapter Manga, Video Naruto, atau Berita Tentang Naruto.
Ternyata Kehidupan di Pesantren itu tidak selamanya Buruk,menyiksa dan Terkurung. Buktinya Mereka bias ceria dan bahagia di tengah semua kenangan kehidupan pesantren yang penuh akan Selimut ilmu dan canda tawa.
++++++++++++


1.                Pertemuan yang Bahagia
Pagi ini di al-ikhlas diguyur hujan deras.
Para santri yang ingin keluar istirahat tertahan di koridor-koridor gedung sekolah. Beberapa dari mereka ada yang nekat berhamburan melarikan diri. Berbondong -bondong menuju  kantin. Bahkan di antara mereka ada yang lari Super Duper Cepat, mungkin superhero Flash juga lewat. Di kantin mereka bias berteduh sambil mengisi perut yang kelaparan. Akhirnya kantin berubah jadi kayak Terminal, banyak orang yang neduh tapi kagak ada yang jajan
.
Salah satu dari para santri-santri nekat itu, Maman. Dia berlari kencang, bagaikan shunshin no jutsu di cerita Naruto. Kala itu Maman sendirian. Soulmate nya, si Cimon, lagi sibuk dengan PR nya di kelas. Ya ampun, Hari Gini masih ngerjain PR di kelas? Cape deh. Saat malam ternyata Cimon sedang melihat dan mendownload video Naruto sampai terlelap tidur. Alhasil, dia enggak bisa duduk manis di kantin buat nyantap gorengan. Enggak habis akal, dia pun berteriak-teriak buat nitip gorengan sama Maman, tapi enggak di layanin. Lagian si Cimon kalau titip jajan di kantin enggak pernah sekalian titip duitnya. Makanya,kali ini takada ampun lagi buat Cimon.

“Sa-Si-Sa-Si yang menang ba-u-te-ra-si,” telunjuk Maman berhenti di warung Bu Ritme. Dasar Maman, mau makan aja pake ilmu arisan segala. Hehehe. Bukan apa-apa,soalnya semua makanan yang ada di kantik ini enak-enak. Maman sendiri heran, padahal tadi pagi jatah sarapan dari pondok lumayan banyak, tapi jam segini perutnya udah laper lagi aja.
Dia lalu mejeng di warung Bu Ritme dan memesan nasi uduk paket komplit.
“tumben sendiri,Man? Temen duet kamu kemana kok enggak kelihatan batang hidungnya?” Tegur bu Ritme yang heran mendapati Maman hanya memesan satu piring, biasanya dua,atau kadang tiga.
“Ya elah masa batang hidung nya doing yang keliatan,bu?
“Ya dari pada mancung kedalam, nanti kayak Rina Nose,” Bu Ritme Tertawa
“Tapi Terkenal kan bu…….. kalau Si Cimon lagi ngerjain PR di kelas, jadi libur dulu ke kantin nya.”sahutnya sembari memilih tempat duduk dan celingukan ke kanan ke kiri.
“Kok ngerjain PR di kelas sih?” kata bu Ritme sembari menyodorkan sepiring nasi uduk ke meja Maman.
“ya biarin aja, emang kenapa,bu? Dari pada ngerjain nya di lapangan, nanti di kira mau main bola lagi” jawab maman asal.
Setelah Makan, Maman mengambil segelas es the manis di dapur kantin, seketika pandangan Maman menuju  satu tatapan lurus yang mencengkram,ternyata yang dilihat maman adalah seorang gadis yang berparas elok bagaikan Elsa di film Frozen.
“Maaf…kenapa anda  pergi ke dapur, padahal tempat makan ada di Depan?”
“Aaaaannnu, saya mau ngambil es the manis saya yang belum di antar sama bu Ritme?” dengan kata yang terbata-bata.
“Berarti keperluan kamu sudah terpenuhi kan? Jadi sekarang anda boleh meninggalkan dapur ini, karena dapur ini akan saya pake untuk mencuci.” Dengan nada yang cukup membuat orang merinding ketakutan
“Ternyata galak juga yah santri wati ini,tapi tetep cantik sih”ucapnya dalam hati
“Kenapa Masih diam saja!”
Kemudian Maman pun pergi dari dapur dan melangkah kan kakinya ke Cimon dengan perasaan sedikit kesal tapi bahagia. Cimon yang melihat maman dengan muka yang penuh dengan seri itu terasa heran.
“Man,kenapa kamu senyam-senyum sendiri aja,kayak orang gila aja.”dengan raut wajah yang penuh dengan teka-teki
“gak pa-pa, saya cuman seneng aja, tadi habis ngeliat santriwati berparas elok gitu,kayak sakura deh” dengan penuh bahagianya maman berkata seperti itu.
“Cerita dong ,Man?!”
Setelah Panjang kali lebar kali tinggi Maman menceritakan kejadian itu kepada soulmate-nya, datang Rezi yang membawa banyak buku dari Perpustakaan.Maklum diakan pinter banget.Bahasa arab dan hapalan hadisnya di atas rata-rata teman-teman seusianya. Pengetahuan umumnya juga enggak bisa diremehin, meski agak selengean.
“Man,Mon, lagi pada ngomongin apa?” cletuk Rezi
Jawab Cimon “ini loh rez,temen kita ini lagi falling in love gitu.”
“Waduh gawat nih,kamu udah kena virus merah jambu, Man”
“emang apaan tuh Virus Merah Jambu?” Mulai Kepo Si Maman.
“Virus Merah Jambu itu bakal ngotorin hati kamu. Kamu bakal kebayang-bayang terus wanita yang kamu sukai.terus kamu juga pasti jadi susah konsentrasi belajar.Tiap hari bawaannya rindu, ingin lihat wajah santriwati itu. Itulah penyakit Merah Jambu.” Dengan detail nya Rezi Menjelaskan.
“ah,siapa bilang. Justru begitu aku melihat santriwati itu, aku jadi semangat belajar. Aku ingin jadi juara umum. Biar  dia tahu siapa Maman di Pondok Pesantren Al-ikhlas ini.”
“Wah,kalo gitu berarti motivasi kamu menuntut ilmu bukan untuk ibadah dong, melainkan karena ingin pujian,”
“ya enggak gitulah, niat awalnya tetap karena ibadah. Nah, kalo pas kita dapat juara terus jadi dipuji kan itu namanya bonus.”
“Ah kamu emang paling bisa kalo negeles,” Rezi pun langsung meninggalkan mereka berdua.
“Terus sekarang kita mau apa?” Tanya Cimon ke Maman
“Gimana kalau buatin aku Puisi ?”  sambil tersenyum lebar si Maman
“ Ok,Nanti malem jam 9 yah,sekarang saya ada eschool nih.”
“sippp Mon” Maman pun mengeluarkan kedua Jempolnya.

Waktu pun terus berputar hingga Pukul 21.00 pun Tiba, Maman dan Cimon pun bergegas membuat Puisi di Gubuk Penerima Tamu. Gubuk ini Biasa ramai ketika hari Libur Tiba, banyak orang tua atau kerabat yang datang untuk menjemput santri –santri di sini. Dengan menunggu lama, puisi buatan Cimon pun sudah selesai. Kemudian Maman pun tak sabar ingin membacanya. Sambil baca bismillah dengan dada yang dag-dig-dug,Maman membacanya.

  • Kekasih pergi karena cinta….
  • ·         Wanita datang karena cinta…
  • ·         Debt collector datang karena utang….
“Hah?!” Maman Melongo

  • ·         Bak awan mendung percikkan tetes hujan….
  • ·         Sejenak basahi sepetak hati yang kering….
  • ·         Berapa harga sepetak hati saat ini?
“Mon, kamu ini mau bikin puisi apa makelar tanah sih? Kok pake segala ada pertanyaan harga sepetak-sepetak segala?kayak tanah aja.” Protes Maman setelah membaca beberapa bait puisinya . Baru kali ini dia menemukan puisi yang aneh begini. Satu dua awal kalimat bagus, ekh kenapa yang ketiganya jadi ngaco begini?
Kemudian,Maman kembali membaca lanjutan puisi tersebut.

  • ·         Haruskah angina itu pergi?
  • ·         Agar tidak menghancurkan mimpi sekejap ini….?
Cimon menjawab dengan kalem.” Kamu itu enggak tahu seninya puisi. Puisi yang bagus itu seperti ini. Memuat dua unsur di dalamnya,yakni unsur puitis dan humoris.jadi biar yang bacanya itu enggak bosan dan bisa diselingi senyum”
“Ooh,gitu.”
Kena lagi Maman dianggapnya orang bodoh. Dia Cuma manggut-manggut aja berusaha menerima alas an Cimon yang terkesan ilmiah itu. Padahal Cimon cuman asal nyebut alesan. Tapi….. kalo dibaca-baca lagi dengan penuh penghayatan, puisi Cimon ini memang bagus kok, batin Maman yang sudah terlanjur jatuh cintrong.

Di luar dugaan Cimon,Maman malah minta di buat satu puisi lagi. Ah, dengan senang hati Cimon pun mengabulkannya. Itu perkara kecil! Cumanya pas baru mau mulai nulis lagi, mereka dikejutkan oleh keberadaan segerombolan santri yang sepertinya menuju kea rah gedung secretariat.

“Man,ada apaantuh?” Tanya Cimon dengan muka bingung
“enggak tahu aku juga.kayak mau tawuran antar asrama.’ Jawab Maman sekenanya
“Ah, ngaco kamu. Masa sabtri tawuran. lihat  yuk! Kita ikutan. Siapa tau emang bener mau tawuran,seru kan.”
“Yeee!”
Enggak mau kehilangan momen,keduanya segera merapihkan alat tulis mereka, dan langsung ngacir bergabung kedalam barisan arak-arakan itu. Keduanya kaget begitu mendapati Rezi ternyata juga ada di sana.ternyata segerombolan ini adalah santri santri kamar mereka. Terlihatnya sosok Karno, Rezi, Doki, Lino, dan Pupun.

Kontan keduanya langsung menyerang Rezi dengan pertanyaan.
“ada apaan sih,Zi?” Tanya Cimon
“Iya,  ada apa sih pada gerombol-gerombol gini,Zi?” sambung Maman
Rezi menjawab santai dengan wajah innocentnya. ”Oh ini.. Si Pupun mau ke gedung secretariat, sendirian, soalnya gelap katanya. Jadi, ya udah kita anta raja rame-rame.”
“Hah?” keduanya melongo.
“Dodol semuanya !” maki Cimon. “Aku kira ada apaan.”
“Dasar santri-santri geblek!” sambung Maman,bĂȘte.
Semua Santri di situ cekikikan. []
                                    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~                                   
Terima Kasih !!!

Tunggu Next nya !

0 komentar:

Posting Komentar