Cerita
di Pesantren
Prolog :
The
N.F.I adalah nama julukan santri-santri kamar Al-Qudus di Pondok
Pesantren Al-ikhlas. Mereka adalah Karno, Rezi, Doki (yang biasa disingkat
Karedok), Maman, Cimon, Lino, Pupun.
Dijuluki demikian karena ke-7
santri ini menggemari anime Naruto dari Jepang,.Hampir Setiap Hari mereka
menghabiskan waktu untuk mengobrol tentang Naruto. Entah itu melihat Chapter
Manga, Video Naruto, atau Berita Tentang Naruto.
Ternyata Kehidupan di Pesantren
itu tidak selamanya Buruk,menyiksa dan Terkurung. Buktinya Mereka bias ceria
dan bahagia di tengah semua kenangan kehidupan pesantren yang penuh akan
Selimut ilmu dan canda tawa.
++++++++++++
1.
Pertemuan yang
Bahagia
Pagi ini di al-ikhlas
diguyur hujan deras.
Para santri yang ingin keluar
istirahat tertahan di koridor-koridor gedung sekolah. Beberapa dari mereka ada
yang nekat berhamburan melarikan diri. Berbondong -bondong menuju kantin. Bahkan di antara mereka ada yang lari
Super Duper Cepat, mungkin superhero Flash juga lewat. Di kantin mereka bias
berteduh sambil mengisi perut yang kelaparan. Akhirnya kantin berubah jadi
kayak Terminal, banyak orang yang neduh tapi kagak ada yang jajan
.
Salah satu dari para
santri-santri nekat itu, Maman. Dia berlari kencang, bagaikan shunshin no jutsu
di cerita Naruto. Kala itu Maman sendirian. Soulmate nya, si Cimon, lagi sibuk
dengan PR nya di kelas. Ya ampun, Hari Gini masih ngerjain PR di kelas? Cape
deh. Saat malam ternyata Cimon sedang melihat dan mendownload video Naruto
sampai terlelap tidur. Alhasil, dia enggak bisa duduk manis di kantin buat
nyantap gorengan. Enggak habis akal, dia pun berteriak-teriak buat nitip
gorengan sama Maman, tapi enggak di layanin. Lagian si Cimon kalau titip jajan
di kantin enggak pernah sekalian titip duitnya. Makanya,kali ini takada ampun
lagi buat Cimon.
“Sa-Si-Sa-Si yang menang
ba-u-te-ra-si,” telunjuk Maman berhenti di warung Bu Ritme. Dasar Maman, mau
makan aja pake ilmu arisan segala. Hehehe. Bukan apa-apa,soalnya semua makanan
yang ada di kantik ini enak-enak. Maman sendiri heran, padahal tadi pagi jatah
sarapan dari pondok lumayan banyak, tapi jam segini perutnya udah laper lagi
aja.
Dia lalu mejeng di warung Bu
Ritme dan memesan nasi uduk paket komplit.
“tumben sendiri,Man? Temen duet
kamu kemana kok enggak kelihatan batang hidungnya?” Tegur bu Ritme yang heran
mendapati Maman hanya memesan satu piring, biasanya dua,atau kadang tiga.
“Ya elah masa batang hidung nya
doing yang keliatan,bu?
“Ya dari pada mancung kedalam,
nanti kayak Rina Nose,” Bu Ritme Tertawa
“Tapi Terkenal kan bu…….. kalau
Si Cimon lagi ngerjain PR di kelas, jadi libur dulu ke kantin nya.”sahutnya
sembari memilih tempat duduk dan celingukan ke kanan ke kiri.
“Kok ngerjain PR di kelas sih?”
kata bu Ritme sembari menyodorkan sepiring nasi uduk ke meja Maman.
“ya biarin aja, emang kenapa,bu?
Dari pada ngerjain nya di lapangan, nanti di kira mau main bola lagi” jawab
maman asal.
Setelah Makan, Maman mengambil
segelas es the manis di dapur kantin, seketika pandangan Maman menuju satu tatapan lurus yang mencengkram,ternyata
yang dilihat maman adalah seorang gadis yang berparas elok bagaikan Elsa di
film Frozen.
“Maaf…kenapa anda pergi ke dapur, padahal tempat makan ada di
Depan?”
“Aaaaannnu, saya mau ngambil es
the manis saya yang belum di antar sama bu Ritme?” dengan kata yang
terbata-bata.
“Berarti keperluan kamu sudah
terpenuhi kan? Jadi sekarang anda boleh meninggalkan dapur ini, karena dapur
ini akan saya pake untuk mencuci.” Dengan nada yang cukup membuat orang
merinding ketakutan
“Ternyata galak juga yah santri wati ini,tapi tetep cantik sih”ucapnya dalam hati
“Ternyata galak juga yah santri wati ini,tapi tetep cantik sih”ucapnya dalam hati
“Kenapa Masih diam saja!”
Kemudian Maman pun pergi dari
dapur dan melangkah kan kakinya ke Cimon dengan perasaan sedikit kesal tapi
bahagia. Cimon yang melihat maman dengan muka yang penuh dengan seri itu terasa
heran.
“Man,kenapa kamu senyam-senyum
sendiri aja,kayak orang gila aja.”dengan raut wajah yang penuh dengan teka-teki
“gak pa-pa, saya cuman seneng
aja, tadi habis ngeliat santriwati berparas elok gitu,kayak sakura deh” dengan
penuh bahagianya maman berkata seperti itu.
“Cerita dong ,Man?!”
Setelah Panjang kali lebar kali
tinggi Maman menceritakan kejadian itu kepada soulmate-nya, datang Rezi yang
membawa banyak buku dari Perpustakaan.Maklum diakan pinter banget.Bahasa arab
dan hapalan hadisnya di atas rata-rata teman-teman seusianya. Pengetahuan
umumnya juga enggak bisa diremehin, meski agak selengean.
“Man,Mon, lagi pada ngomongin
apa?” cletuk Rezi
Jawab Cimon “ini loh rez,temen
kita ini lagi falling in love gitu.”
“Waduh gawat nih,kamu udah kena
virus merah jambu, Man”
“emang apaan tuh Virus Merah
Jambu?” Mulai Kepo Si Maman.
“Virus Merah Jambu itu bakal
ngotorin hati kamu. Kamu bakal kebayang-bayang terus wanita yang kamu sukai.terus
kamu juga pasti jadi susah konsentrasi belajar.Tiap hari bawaannya rindu, ingin
lihat wajah santriwati itu. Itulah penyakit Merah Jambu.” Dengan detail nya
Rezi Menjelaskan.
“ah,siapa bilang. Justru begitu
aku melihat santriwati itu, aku jadi semangat belajar. Aku ingin jadi juara
umum. Biar dia tahu siapa Maman di
Pondok Pesantren Al-ikhlas ini.”
“Wah,kalo gitu berarti motivasi
kamu menuntut ilmu bukan untuk ibadah dong, melainkan karena ingin pujian,”
“ya enggak gitulah, niat awalnya
tetap karena ibadah. Nah, kalo pas kita dapat juara terus jadi dipuji kan itu
namanya bonus.”
“Ah kamu emang paling bisa kalo
negeles,” Rezi pun langsung meninggalkan mereka berdua.
“Terus sekarang kita mau apa?”
Tanya Cimon ke Maman
“Gimana kalau buatin aku Puisi
?” sambil tersenyum lebar si Maman
“ Ok,Nanti malem jam 9
yah,sekarang saya ada eschool nih.”
“sippp Mon” Maman pun
mengeluarkan kedua Jempolnya.
Waktu pun terus berputar hingga
Pukul 21.00 pun Tiba, Maman dan Cimon pun bergegas membuat Puisi di Gubuk
Penerima Tamu. Gubuk ini Biasa ramai ketika hari Libur Tiba, banyak orang tua
atau kerabat yang datang untuk menjemput santri –santri di sini. Dengan menunggu
lama, puisi buatan Cimon pun sudah selesai. Kemudian Maman pun tak sabar ingin
membacanya. Sambil baca bismillah dengan dada yang dag-dig-dug,Maman
membacanya.
- Kekasih pergi karena cinta….
- · Wanita datang karena cinta…
- · Debt collector datang karena utang….
“Hah?!” Maman Melongo
- · Bak awan mendung percikkan tetes hujan….
- · Sejenak basahi sepetak hati yang kering….
- · Berapa harga sepetak hati saat ini?
“Mon, kamu ini mau bikin puisi
apa makelar tanah sih? Kok pake segala ada pertanyaan harga sepetak-sepetak
segala?kayak tanah aja.” Protes Maman setelah membaca beberapa bait puisinya .
Baru kali ini dia menemukan puisi yang aneh begini. Satu dua awal kalimat
bagus, ekh kenapa yang ketiganya jadi ngaco begini?
Kemudian,Maman kembali membaca
lanjutan puisi tersebut.
- · Haruskah angina itu pergi?
- · Agar tidak menghancurkan mimpi sekejap ini….?
Cimon menjawab dengan kalem.”
Kamu itu enggak tahu seninya puisi. Puisi yang bagus itu seperti ini. Memuat
dua unsur di dalamnya,yakni unsur puitis dan humoris.jadi biar yang bacanya itu
enggak bosan dan bisa diselingi senyum”
“Ooh,gitu.”
Kena lagi Maman dianggapnya orang
bodoh. Dia Cuma manggut-manggut aja berusaha menerima alas an Cimon yang
terkesan ilmiah itu. Padahal Cimon cuman asal nyebut alesan. Tapi….. kalo
dibaca-baca lagi dengan penuh penghayatan, puisi Cimon ini memang bagus kok,
batin Maman yang sudah terlanjur jatuh cintrong.
Di luar dugaan Cimon,Maman malah
minta di buat satu puisi lagi. Ah, dengan senang hati Cimon pun mengabulkannya.
Itu perkara kecil! Cumanya pas baru mau mulai nulis lagi, mereka dikejutkan
oleh keberadaan segerombolan santri yang sepertinya menuju kea rah gedung
secretariat.
“Man,ada apaantuh?” Tanya Cimon
dengan muka bingung
“enggak tahu aku juga.kayak mau
tawuran antar asrama.’ Jawab Maman sekenanya
“Ah, ngaco kamu. Masa sabtri
tawuran. lihat yuk! Kita ikutan. Siapa
tau emang bener mau tawuran,seru kan.”
“Yeee!”
“Yeee!”
Enggak mau kehilangan
momen,keduanya segera merapihkan alat tulis mereka, dan langsung ngacir
bergabung kedalam barisan arak-arakan itu. Keduanya kaget begitu mendapati Rezi
ternyata juga ada di sana.ternyata segerombolan ini adalah santri santri kamar
mereka. Terlihatnya sosok Karno, Rezi, Doki, Lino, dan Pupun.
Kontan keduanya langsung
menyerang Rezi dengan pertanyaan.
“ada apaan sih,Zi?” Tanya Cimon
“Iya, ada apa sih pada gerombol-gerombol gini,Zi?”
sambung Maman
Rezi menjawab santai dengan wajah
innocentnya. ”Oh ini.. Si Pupun mau ke gedung secretariat, sendirian, soalnya
gelap katanya. Jadi, ya udah kita anta raja rame-rame.”
“Hah?” keduanya melongo.
“Dodol semuanya !” maki Cimon.
“Aku kira ada apaan.”
“Dasar santri-santri geblek!”
sambung Maman,bĂȘte.
Semua Santri di situ cekikikan.
[]
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Terima Kasih
!!!


0 komentar:
Posting Komentar